PEMECAH KEBUNTUAN DIMASA DEPAN

TEKNOLOGI TEPAT GUNA

TEKNOLOGI TEPAT GUNA
BERPIKIRLAH SEBELUM ANDA MENJADI BAHAN PIKIRAN

BETA Fresh

BETA Fresh
KEMASAN BOTOLAN BETA Fresh

Selasa, 01 Maret 2011

PROSES PEMBUATAN GARAM DARI AIR LAUT DENGAN TUJUAN AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH AIR LAUT UTK BERBAGAI KEPENTINGAN

PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM

oleh Dini Purbani
Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati
Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan
Abstrak
Produktivitas pembikinan garam masih rendah. Menurut catatan Departemen
Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam
sekitar 2,1 juta ton. Namun Indonesia hanya mampu memenuhinya sebesar 112 juta
ton. Sisa kebutuhan sebesar 900 juta ton garam masih diimpor. Hal ini diakibatkan oleh rendahnya kualitas dan kuantitas garam rakyat, untuk itu perlu dilaksanakan
Kegiatan Pendampingan Teknis Pembuatan Garam di daerah-daerah penghasil
garam dan bekerja sama dengan Pemda setempat.



I. Pendahuluan
Latar Belakang
Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari
kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Walaupun Indonesia termasuk negara maritim, namun usaha meningkatkan
produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan
kualitasnya. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik
(kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor dari luar
negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industri.
Kebutuhan garam nasional dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring
dengan pertambahan penduduk dan perkembangan industri di Indonesia
sebagaimana yang disajikan oleh Direktorat Industri Kimia An Organik,
Deperindag dan APROGAKOB pada pertemuan Forum Peluang Pasar garam
Indonesia tanggal 31 Oktober 2000 yaitu tahun 1997 sebesar 1.650.000 ton,
tahun 1998 sebesar 1.825.000 ton, tahun 1999 sebesar 1.935.000 ton dan
tahun 2000 sebesar 2.100.000 ton. Untuk tahun 2000 kebutuhan garam
nasional diproyeksikan berkisar 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan
konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri. Sehingga
total kebutuhan garam sebanyak 2.100.000–2.200.000 ton sedangkan
perkiraan proyeksi produksi garam hanya sekitar 300.000–900.000 ton. Ini
berarti bahwa untuk memenuhi kebutuhan garam nasional untuk periode
tahun 2000 paling sedikit harus mengimpor garam sebanyak 1.200.000 ton.
PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM
Di Indonesia walaupun merupakan negara kepulauan, tetapi pusat
pembuatan garam terkonsentrasi di Jawa dan Madura yaitu di Jawa seluas
10.231 Ha (Jawa Barat 1.159 Ha, Jawa Tengah 2.168 Ha, Jawa Timur 6.904 Ha)
dan Madura 15.347 Ha (Sumenep 10.067 Ha, Pemekasan 3.075 Ha, Sampang
2.205 Ha). Luas areal yang dikelola oleh PT Garam hanya 5.116 Ha yang
seluruhnya berada di pulau Madura yaitu di Sumenep 3.163 Ha, Pemekasan
907 Ha dan di Sampang 1.046 Ha. Lokasi lainnya yaitu di NTB seluas 1.155 Ha,
Sulawesi Selatan 2.040 Ha, Sumatera dan lain-lain 1.885 Ha, sehingga luas
areal penggaraman seluruhnya sebesar 30.658 Ha dimana 25.542 Ha dikelola
secara tradisional oleh rakyat. Areal garam yang dikelola oleh PT. Garam
produksinya 60 ton/Ha/tahun, sedang garam rakyat hanya 40 ton/Ha/tahun
(PT. Garam Persero, 2000).
Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah
kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri.
Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam.,
Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik
sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung
kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90–95%, dan sedang kadar NaCl antara
80–90% tetapi yang diutamakan adalah yang kandungan garamnya di atas
95%.
Garam industri dengan kadar NaCl >95% yaitu sekitar 1.200.000 ton sampai
saat ini seluruhnya masih diimpor, hal ini dapat dihindari mengingat Indonesia
sebagai negara kepulauan. Sistem penggaraman rakyat sampai saat ini menggunakan kristalisasi total
sehingga produktifitas dan kualitasnya masih kurang atau pada umumnya
kadar NaClnya kurang dari 90% dan banyak mengandung pengotor
padahal luas lahan penggaraman rakyat 25.542 Ha atau sekitar 83,31% dari
luas areal penggaraman nasional. Jika 50% dari luas areal penggaraman ini
ditingkatkan produktifitasnya menjadi 80 ton/Ha/tahun, maka dapat
diproduksi garam sebanyak 1.500.000 ton sehingga total produksi garam
nasional menjadi 1.800.000 ton. Dengan demikian kebutuhan impor garam
industri dapat dikurangi dari 1.200.000 ton menjadi hanya sekitar 300.000 ton.
Pada kesempatan ini penulis akan memaparkan kegiatan penggaraman di
di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Nusa
Tenggara Timur, dan Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai bentuk dari upaya PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM
kegiatan sosialisasi garam.

II. Lokasi Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di daearh pes
Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, K
Tenggara Barat, dan Kabupaten Ngad III. Tujuan dan Sasaran
Tujuan Kegiatan Sosialisasi Garam adalah
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas garam rakyat sesuai dengan
standart SNI
2. Memberikan pedoman dan pengarahan dalam pembuatan garam
kepada petani

Sasaran Kegiatan Sosialisasi Garam adalah
1. Menjadikan daerah–daerah lokasi kegiatan dapat memproduksi
garam sebagai komoditi utama,
2. Memiliki sistem tambak garam yang sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

IV. Metodologi Pembuatan Garam

Proses pembuatan garam dibagi dalam empat tahap yaitu:
1. Penyiapan lokasi penggaraman 2. Alat dan bahan
3. Lokasi penggaraman
4. Proses pembuatan garam

IV. 1. Penyiapan lokasi penggaraman
Proses pembuatan garam yang sederhana adalah menguapkan air laut
sehingga mineral-mineral yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja
mineral-mineral yang kurang diinginkan sedapat mungkin hanya sedikit yang
dikandung oleh garam yang diproduksi.
Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat,
sehingga dengan gaya gravitasi air dapat mengalir ke hilir kapan saja
dikehendaki. Dalam tulisan ini diberikan dua model peningkatan mutu
garam, yaitu mengendapkan Ca dan Mg dengan menggunakan Natrium
Karbonat atau Natrium Oksalat yang dikombinasikan dengan cara
pengendapan bertingkat.
Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup banyak dikandung PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 3
dalam air laut selain NaCl perlu diendapkan agar kadar NaCl yang diperoleh
meningkat. Kalsium dan magnesium dapat terendapkan dalam bentuk
garam sulfat, karbonat dan oksalat. Dalam proses pengendapan atau
kristalisasi garam karbonat dan oksalat mengendap dahulu, menyusul garam
sulfat, terakhir bentuk garam kloridanya.
Prinsip dasar dari proses pembuatan garam yang dilakukan adalah
menghasilkan garam yang kualitasnya lebih baik. Untuk itu, diperlukan studi
lapangan yang menunjang kualitas garam antara lain kondisi lahan yang
digunakan, kemiringan, uji laboratorium, termasuk kondisi iklim dan
sebagainya, sehingga dihasilkan garam sesuai kualitas yang diharapkan.

Data yang diperlukan yaitu :
• Evaporasi / penguapan (tinggi)
• Kecepatan dan arah angin (>5 m/detik)
• Suhu udara (>32°C)
• Penyinaran matahari (100%)
• Kelembaban udara (<50% H) • Curah hujan (rendah) dan hari hujan (kurang) • Pasang surut IV. 2. Alat Dan Bahan IV. 2.1. Alat Alat-alat yang diperlukan antara lain : • Meteran • Pompa • Pipa paralon, stop kran dan selang karet • Cangkul, linggis, skop, penggaruk dsb. IV. 2.2. Bahan Bahan yang diperlukan antara lain : • Air laut yang bebas dari polusi (dipompa) • Natrium karbonat (teknis) • Natrium Oksalat (teknis) IV. 3. Lokasi Penggaraman Tanah untuk penggaraman yang dipilih harus memenuhi kriteria yang berkaitan dengan ketinggian dari permukaan laut, topografi tanah, sifat fisi tanah, kehidupan (hewan/tumbuhan) dan gangguan bencana alam. a. Letak terhadap permukaan air laut : • Untuk mempermudah suplai air laut • Untuk mempermudah pembuangan b. Topografi : • Dikehendaki tanah yang landai atau kemiringan kecil. • Untuk mengatur tata aliran air dan meminimilisasi biaya konstruksi c. Sifat fisis tanah : Dikehendaki sifat-sifat : PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 4 • Permeabilitas rendah • Tanah tidak mudah retak Pasir : Permeabilitas tinggi Tanah liat : Permeabilitas rendah Retak pada kelembaban rendah Untuk peminihan tanah liat untuk penekanan resapan air (kebocoran) Untuk meja-meja campuran pasir dan tanah liat guna kualitas dan kuantitas hasil produksi Pengujian laborat tanah, yang diperlukan : • Grain size (ukuran) • Kelakuan pada pengerasan (proctor test) Bila diperlukan daya dukung untuk lokasi gudang dan pondasi pompa d. Gangguan kehidupan : • Tanaman pengganggu • Binatang tanah e. Gangguan bencana alam : Daerah banjir / gempa / gelombang pasang IV. 4. Proses Pembuatan Garam Ada bermacam-macam cara pembuatan garam yang telah dikenal manusia, tetapi dalam tulisan ini hanya akan diuraikan secara singkat cara pembuatan garam yang proses penguapannya menggunakan tenaga matahari (solar evaporation), mengingat cara ini dinilai masih tepat untuk diterapkan perkembangan teknologi dan ekonomi di Indonesia pada waktu sekarang. Pada dasarnya pembuatan garam dari air laut terdiri dari langkah-langkah proses pemekatan (dengan menguapkan airnya) dan pemisahan garamnya (dengan kristalisasi). Bila seluruh zat yang terkandung diendapkan/dikristalkan akan terdiri dari campuran bermacam-macam zat yang terkandung, tidak hanya Natrium Klorida yang terbentuk tetapi juga beberapa zat yang tidak diinginkan ikut terbawa (impurities). Proses kristalisasi yang demikian disebut “kristalisasi total”. PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM Salinitas 35°/oo atau 3–3,5°Be Waduk/Bozeem (Serapan) Salinitas 50°/oo atau 5–10°Be Peminihan I (serapan + endapan) ±15°Be Peminihan II (serapan + endapan) Pompa Bak Penampungan Air Laut (Pengendapan Partikel/Lumpur) Kolam Pengendapan I Penambahan CO2 atau Oksalat Bak Penampungan Air Laut (Pengendapan Partikel/Lumpur) ±25°Be NaCl >98%

±28°Be

NaCl >97%
NaCl terendapkan 72%
>29°Be

Bittern (Senyawa Mg)
Air Garam >29°Be
Kolam Kristalisasi Garam I
Kolam Kristalisasi Garam II
Dibuang Gambar 1. Bagan Proses Pembuatan Garam Evaporasi
Kadar NaCl Tinggi



Bila terjadi kristalisasi komponen garam tersebut diatur pada tempat-tempat
yang berlainan secara berturut-turut maka dapatlah diusahakan terpisahnya
komponen garam yang relatif lebih murni. Proses kristalisasi demikian disebut
kristalisasi bertingkat. PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 6
Untuk mendapatkan hasil garam Natrium Klorida yang kemurniannya tinggi
harus ditempuh cara kristalisasi bertingkat, yang menurut kelakuan air laut,
tempat kristalisasi garam (disebut meja garam) harus mengkristalkan air
pekat dari 25°Be sehingga menjadi 29°Be, sehingga pengotoran oleh gips
dan garam-garam magnesium dalam garam yang dihasilkan dapat
dihindari/dikurangi.

IV.4.1. Konstruksi Penggaraman
Ada dua macam konstruksi penggaraman yang dipakai di Indonesia :
„ Konstruksi tangga (getrapte)
Yaitu konstruksi yang terancang khusus dan teratur dimana suatu petak
penggaraman merupakan suatu unit penggaraman yang komplit, terdiri dari
peminihan-peminihan dan meja-meja garam dengan konstruksi tangga,
sehingga aliran air berjalan secara alamiah (gravitasi).
„ Konstruksi komplek meja (tafel complex)
Yaitu konstruksi penggaraman dimana suatu kompleks (kelompok-kelompok)
penggaraman yang luas yang letaknya tidak teratur (alamiah) dijadikan
suatu kelompok peminihan secara kolektif, yang kemudian air pekat (air tua)
yang dihasilkan dialirkan ke suatu meja untuk kristalisasi.

IV.4.2. Faktor-faktor Teknis yang Mempengaruhi Produksi Garam
a. Air Laut
Mutu air laut (terutama dari segi kadar garamnya (termasuk kontaminasi
dengan air sungai), sangat mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk
pemekatan (penguapan). b. Keadaan Cuaca
• Panjang kemarau berpengaruh langsung kepada “kesempatan” yang
diberikan kepada kita untuk membuat garam dengan pertolongan
sinar matahari.
• Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya dalam setahun
rata-rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang
kemarau yang kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut.
• Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat
mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar
penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.
c. Tanah
• Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan
(kebocoran) air laut kedalam tanah yang di peminihan ataupun di
meja.
• Bila kecepatan perembesan ini lebih besar daripada kecepatan
penguapannya, apalagi bila terjadi hujan selama pembuatan garam,
maka tidak akan dihasilkan garam.
• Jenis tanah mempengaruhi pula warna dan ketidakmurnian (impurity) PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM
d. Pengaruh air
• Pengaturan aliran dan tebal air dari peminihan satu ke berik
dalam kaitannya dengan faktor-faktor arah kecepatan angin
kelembaban udara merupakan gabungan penguapan air (ko
pemindahan massa).
• Kadar/kepekatan air tua yang masuk ke meja kristalisasi
mempengaruhi mutu hasil.
• Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam harus antara 25–
Bila konsentrasi air tua belum mencapai 25°Be maka gips (K Sulfat) akan banyak mengendap, bila konsentrasi air tua lebih dari
29°Be Magnesium akan banyak mengendap.
e. Cara pungutan garam
Segi ini meliputi jadwal pungutan, umur kristalisasi garam dan jadwal
pengerjaan tanah meja (pengerasan dan pengeringan).
Demikian pula kemungkinan dibuatkan alas meja dari kristal garam yang
dikeraskan, makin keras alas meja makin baik.
Pungutan garam ada 2 sistem :
• Sistem Portugis
Pungutan garam di atas lantai garam, yang terbuat dari kristal garam
yang dibuat sebelumnya selama 30 hari, berikut tiap 10 hari dipungut.
• Sistem Maduris
Pungutan garam yang dilakukan di atas lantai tanah, selama antara 10–
15 hari garam diambil di atas dasar tanah. f. Air Bittern
Air Bittern adalah air sisa kristalisasi yang sudah banyak mengandung
garam-garam magnesium (pahit).
Air ini sebaiknya dibuang untuk mengurangi kadar Mg dalam hasil garam,
meskipun masih dapat menghasilkan kristal NaCl. Sebaiknya kristalisasi
garam dimeja terjadi antara 25–29°Be, sisa bittern ≥ 29°Be dibuang.
IV.4.3. Tahapan Proses Pembuatan Garam
a. Pengeringan Lahan
• Pengeringan lahan pemenihan dilaksanakan pada awal bulan April.
• Pengeringan lahan kristalisasi.
b. Pengolahan Air Peminian/Waduk
• Pemasukan air laut ke Peminian.
• Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi.
• Pengaturan air di Peminian.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan selama
seminggu.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan, untuk a. Pengeringan Lahan
• Pengeringan lahan pemenihan dilaksanakan pada awal bulan April.
• Pengeringan lahan kristalisasi.
b. Pengolahan Air Peminian/Waduk
• Pemasukan air laut ke Peminian.
• Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi.
• Pengaturan air di Peminian.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan selama
seminggu.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan, untuk
pengeluaran Brine selanjutnya dari peminian tertua melalui Brine Tank.
• Pengembalian air tua ke waduk. Apabila air peminihan cukup untuk
memenuhi meja kristal, selebihnya dipompa kembali ke waduk.
c. Pengolahan Air dan Tanah
• Pekerjaan Kesap Guluk (K/G) dan Pengeringan :
- Pertama K/G dilakukan setelah air meja 4–6°Be.
- Kedua K/G dilakukan setelah air meja 18–22°Be dan meja di atasnya
dilakukan K/G dengan perlakuan sama. PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 8
• Lepas air tua dilakukan pada siang hari dengan konsentrasi air garam
24–25°Be dan ketebalan air 3–5 cm.
d. Proses Kristalisasi
• Pemeliharaan meja begaram
• Aflak (perataan permukaan dasar garam)
e. Proses Pungutan
• Umur kristal garam 10 hari secara rutin
• Pengaisan garam dilakukan hati-hati dengan
ketebalan air meja cukup atau 3–5 cm.
• Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk profil (ditiriskan),
kemudian diangkut ke gudang atau siap untuk proses pencucian.
f. Proses Pencucian
• Pencucian bertujuan untuk meningkatkan kandungan NaCl dan
mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan kotoran lainnya.
• Air pencuci garam semakin bersih dari kotoran akan menghasilkan
garam cucian lebih baik atau bersih.
Persyaratan air pencuci :
- Air garam (Brine) dengan kepekatan 20–24°Be
- Kandungan Mg ≤ 10 g/liter.















Peminihan dengan penguapan Meja kristalisasi Timbunan
di mana terjadi pula pengen- NaCl Garam
dapan Fe2O3, CaCO3 dan
CaSO4.2H2O
± 25 °Be
Peminihan
± 29 °Be
Meja Garam
Air Bittern ≥ 29 °Be, dibuang
Gudang
Penyimpanan
Angin Air laut
Garam
Matahari
Air Laut Tertinggi
3 – 3,5 °Be
Gambar 2. Proses Pembuatan Garam
PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM







Gambar 3. Bagan Alir Proses Pembuatan Garam


V. Hasil
Kegiatan ini telah dilaksanakan di daerah :
1. Kabupaten Pati Propinsi Jawa Tengah,
2. Kabupaten Lombok Barat,
3. Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat,
4. Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur, dan
5. Kabupaten Jeneponto Propinsi Sulawesi Selatan. Adapun hasil kegiatan di kelima daerah tersebut sebagai berikut:
V. 1. Kabupaten Pati Propinsi Jawa Tengah
Pelaksanaan kunjungan ke tambak garam di Kabupaten Pati Propinsi Jawa
Tengah. Kunjungan yang pertama ke Pabrik Garam Konsumsi UD. Kalian di
Desa Geneng Mulyo-Kecamatan Juwana, hasil kunjungan sebagai berikut:
1. Pabrik Garam Konsumsi UD Kalian menghasilkan Garam Briket, Garam
Halus dan Garam Curai.
2. Untuk pembuatan Garam halus menggunakan bahan dasar import dari
Australia.
3. Bahan dasar garam lokal yang berasal dari tambak garam setempat
digunakan untuk pembuatan garam briket. Dalam proses pembuatan
garam briket dilakukan pencucian secara konvensional.



PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 10
garam briket dilakukan pencucian secara konvensional.
4. Yodisasi garam konsumsi menggunakan sistem spryer/semprotan tabung
yang digunakan untuk pertanian. 5. Hasil produksi garam berlabel
Kunjungan berikutnya ke pegaraman rakyat di Desa Geneng Mulyo. Hasil
orientasi lapangan sebagai berikut:
1. Di lokasi ini lahan pegaraman rakyat yang produktif untuk produksi
garam kurang lebih 2/3 bagian sedangkan sisanya atau 1/3 bagian
untuk budidaya perikanan bandeng/sejenisnya khususnya lahan
pegaraman rakyat yang mendekati pantai.
2. Lahan pegaraman setiap tahun selalu bertambah luasnya disebabkan
oleh sedimentasi dari pantai.
3. Luas lahan pegaraman rakyat antara 0,5 Ha-3 Ha dengan tenaga
penggarap antara 2-3 orang/Ha.
4. Pembagian/pemetakan lahan pegaraman rakyat antara petak tempat penyimpanan air muda (bozen), petak peminihan dan petak kristalisasi
kurang baik, ditandai dengan sebagian pegaraman terlihat kekurangan
air laut dan sebagian pegaraman rakyat berlebihan air laut.
5. Pemeliharaan kristal garam belum dilakukan dan umur kristal garam
antara 2-4 hari serta pungutan garam dilakukan pada posisi air garam
kandas.
6. Taksasi/perkiraan produksi garam sampai dengan September 2002
mencapai 40 ton/Ha.
7. Kualitas garam secara visual putih buram dan halus, bersifat higroskopis.
8. Harga beli garam curai digudang sebesar Rp. 100,-/kg.
Hasil Sosialisasi
Sosialisasi garam rakyat yang dilaksanakan di Kabupaten Pati, diharapkan
dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas serta pendapatan Petani garam
rakyat di daerah Juwana-Pati melalui teknologi proses pembikinan garam.
PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 11
V.2. Kabupaten Lombok Tengah-Kabupaten Lombok Timur
Dalam kegiatan ini mengunjungi :
1. Kampung Sekuit di Kabupaten Lombok Tengah
2. Desa Ijot, Kampung Badak Kabupaten Lombok Timur
3. Desa Jorwaru, Kabupaten Lombok Timur
V.2.1. Hasil Pelaksanaan Kampung Sekuit Kabupaten Lombok Tengah
Pengolahan tambak garam di lahan kritis dengan media penyusun lempung
pasiran, dilakukan secara tradisional oleh rakyat. Tambak garam dapat
dipanen setiap 2-3 hari, ketebalan lapisan garam 2-5 cm, garam diambil di
atas dasar tanah, sesuai dengan metoda Maduris. Sehingga garam yang
dihasilkan bercampur tanah, bersifat higroskopis dan butiran garamnya kasar
dengan nilai kadar NaClnya rendah. Dalam kegiatan ini tidak dilakukan
pencucian, pencucian dilakukan oleh industri atau pabrik garam.

V. 2. 2. Hasil Pelaksanaan Desa Ijot, Kampung Badak Kabupaten Lombok
Timur Proses penggaraman di Desa Ijot memiliki pola yang sama dengan Kampung
Sekuit, hanya saja di lokasi ini dilakukan proses pencucian dengan cara
pembakaran dengan menggunakan sekam sehingga garam yang dihasilkan
memiliki kadar NaCl mencapai 95% dan ayak dikonsumsikan.
PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM

V. 2. 3. Hasil Pelaksanaan Desa Jorwaru, Kabupaten Lombok Timur
Pembuatan garam rakyat pada umumnya di media penyusun lempung
pasiran dilakukan secara tradisional dengan menggunakan alat-alat yang
sederhana dan dikerjakan oleh kelompok-kelompok petani garam. Tambak
garam dapat dipanen setiap 2 hari, sehingga ketebalan lapisan hanya
mencapai 2-5 cm. Garam yang dihasilkan bercampur tanah dan banyak
mengandung air atau bersifat higroskopis. Dilokasi ini tidak dilakukan
pencucian, pencucian dikerjakan oleh pabrik atau industri garam yang
selanjutnya dilakukan proses iodisasi. Hasil Sosialisasi
Hasil Pelaksanaan Sosialisasi garam rakyat di Propinsi Nusa Tenggara Barat
diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas serta pendapatan
Petani garam rakyat di daerah Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten
Lombok Timur melalui teknologi proses pembikinan garam.
V.3. Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur
Dalam kegiatan ini mengunjungi:
1. Desa Kaburea
2. Desa Waekokak I
3. Desa Waekokak II
V.3.1. Hasil Pelaksanaan Desa Kaburea
Pengolahan tambak garam di lahan kritis dengan media penyusun lempung
pasiran, dilakukan secara tradisional oleh rakyat. Tambak garam dapat
dipanen setiap 2-3 hari, ketebalan lapisan garam 2-5 cm, garam diambil di
atas dasar tanah, sesuai dengan metoda Maduris. Sehingga garam yang


PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM

dihasilkan bercampur tanah, bersifat higroskopis dan butiran garamnya kasar
dengan nilai kadar NaClnya rendah di bawah standart SNI. Dalam kegiatan
ini tidak dilakukan pencucian, pencucian dilakukan oleh industri atau pabrik
garam.
V.3.2. Hasil Pelaksanaan Desa Waekokak I

Kondisi morfologis lapisan penyusun lempung pasiran. Luas areal 29,6 ha.
Kepemilikan lahan ini adalah lahan rakyat. Garam yang terbentuk disini
masih alami, belum diolah oleh rakyat. Lokasi tersebut sangat sesuai untuk
dijadikan lahan garam. Disamping itu pencapaian ke lokasi mudah.
PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM
V.3.3. Hasil Pelaksanaan Desa Waekokak II
Lapisan penyusun lempung pasiran. Sekitar lokasi tambak garam merupakan
daerah perbukitan

Kondisi Di Lapangan
Lokasi ini mendapat bantuan dari Ikatan Koperasi Garam Indonesia, dana
bantuan sebesar 1 Milyar, yang diberikan pada tahun 2000. Sampai saat ini,
belum menghasilkan garam rakyat. Petani mengerjakan; saluran air laut,
waduk/bozeem I dengan kedalam 1 m untuk menampung air laut, dan
waduk/bozeem II untuk menghilangkan lumpur atau partikel pengotor.


Hasil Sosialisasi
Hasil Pelaksanaan Sosialisasi garam rakyat diharapkan dapat meningkatkan
kualitas dan kuantitas serta pendapatan Petani garam rakyat di daerah
Kabupaten Ngada Propinsi NTT melalui teknologi proses pembikinan garam.
V.4. Kabupaten Jeneponto Propinsi Sulawesi Selatan
Pengamatan lapangan dilakukan di Desa Punagaya Kecamatan Bangkala
Kabupaten Jeneponto
Hasil Pelaksanaan
Kabupaten Jeneponto dengan luas lahan penggaraman sebesar 554,55 ha.
Dengan jumlah unit usaha 1.118 dengan jumlah tenaga kerja 2.126 orang
mempunyai produksi 29.132,5 ton dengan nilai produksi sebesar Rp.
5.409.700.000 sesuai hasil pendataan tahun 2001. Sementara untuk Desa PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM
Punagaya terdiri dari 140 unit usaha deng
dan luas areal 368.5 ha produksi 5.95
1.190.000.000,-. Umur panen dan mutu pro 3 hari sehingga keadaan ini menyebabkan produksi tidak mampu bersaing
dalam perebutan pasar di Pulau Jawa baik untuk kebutuhan industri garam
beryodium maupun untuk kebutuhan industri lainnya.
Hasil Sosialisasi
Dari pendampingan tersebut diatas diperoleh hasil sebagai berikut:
1) Semakin terbukanya wawasan petani akan manfaat peningkatan
mutu garam dalam produksi maupun dari aspek pemasaran.
2) Perhatian dan antusiasme petani/pengusaha cukup besar dan
dukungan pemerintah setempat cukup menunjang sehingga
upaya pendampingan kedepan masih sangat diharapkan baik
dari aspek teknologi prosessing maupun dari aspek pemasaran
hasil produksi.
3) Adanya tindak lanjut atas kondisi yang dialami petani/pengusaha
melalui kegiatan pendampingan masa datang atas kerjasama
pihak terkait diantaranya BRKP- DKP, UNHAS, PT. Garam Surabaya
dan Pemerintah Kab.Jeneponto.
VI. Kesimpulan dan Saran
Setelah mengadakan kunjungan ke lokasi-lokasi pembuatan garam di
Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Nusa Tenggara
Timur, dan Provinsi Sulawesi Selatan maka dapat disimpulkan bahwa:
1) Proses pembuatan garam dilakukan selama 2 sampai 3 hari, dengan
ketebalan lap garam hanya mencampai 3- 5 cm sehingga garam
yang dihasilkan bercampur tanah, bersifat higroskopis atau
mengandung air dengan kadar NaCl di bawah SNI.
2) Dalam proses pembuatan garam alat-alat yang digunakan masih
bersifat tradisional dan dikerjakan secara kekeluargaan.
3) Harga penjualan hasil produksi garam rakyat belum ditentukan oleh PROSES PEMBENTUKAN KRISTALISASI GARAM 16
pemerintah sehingga menyulitkan petani dalam memberi harga, yang
mengakibatkan harga penjualan dikuasai oleh pengepul atau
tengkulak.
Saran
1. Penyusunan harga standarisasi garam rakyat oleh pemerintah.
Harga garam rakyat disesuaikan dengan kadar NaCl, sebagai ilustrasi;


Kelas NaCl Harga per gram
NaCl < 90% 250 NaCl 90-95% 500 NaCl > 97% 750
2. Diusulkan tambak garam percontohan di setiap kabupaten
3. Rencana terbentuknya Asosiasi Garam yang berfungsi untuk mengatur
regulasi dari pemberian modal, mengontrol kualitas garam rakyat, dan
penjualan garam rakyat, dll.
VII. Daftar Pustaka
Buku Panduan Pembuatan Garam Bermutu dicetak oleh Badan Riset
Kelautan dan Perikanan Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati


Tidak ada komentar: